Islam Agama Yang UnIk

Sesungguhnya bermula datangnya Islam dianggap asing (aneh) dan akan datang kembali asing. Namun berbahagialah orang-orang asing itu.
Para sahabat bertanya kepada Rasulullah saw.
“Ya, Rasulullah, apa yang dimaksud orang asing itu?”
Lalu Rasulullah menjawab,
”Orang-orang yang melakukan kebaikan-kebaikan disaat orang-orang sekitarnya melakukan kerusakan.”
[H.R. Muslim]
PROLOGUE: ISLAM, ISLAM! ISLAM?
Islam adalah agama yang berdasarkan pada kepasrahan (taslim) terhadap Kehendak Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT, dan berdasarkan pada pengetahuan tentang keesaan-Nya. Islam adalah agama penghambaan kepada Allah SWT, Realitas Tertinggi, asal muasal seluruh realitas, dan kepada siapa semua kembali, karena Allah SWT adalah asal, pencipta, pengatur, pemelihara, dan akhir alam semesta. Islam memandang agama bukan hanya sebagai bagian dari hidup tetapi sebagai keseluruhannya. Al-Islam atau ad-din seperti Islam memandang dirinya adalah hidup itu sendiri dan menyatu dengan apa yang kita lakukan, apa yang kita perbuat, apa yang kita pikirkan, dan apa yang kita rasakan seperti halnya juga menjawab pertanyaan dari mana asal muasal kita, apa yang harus kita lakukan di dunia ini, dan kemana kita akan pergi. Itulah sebabnya agama Islam selalu menggunakan ad-din yang mencakup seluruh isi kehidupan manusia, tidak menyisakan apa pun di luar wilayahnya. Menurut perspektif Islam yang tidak sekular, tidak ada apapun di luar kekuasaan yang diperintah oleh agama yang ditahbis (suci)kan oleh Allah SWT.
Dalam berbicara mengenai keberadaan agama-agama yang dianggap ada di dunia ini, kita, kaum Muslim selalu berbicara bukan hanya Islam sebagai agama kita sendiri juga tentang agama sebagaimana adanya dan menegaskan hakikat din al-hanif (ortodok, kolot), agama perenial (dapat hidup terus menerus) dan primordial (paling daasr) yang selalu eksis dalam jiwa semua ajaran yang disampaikan oleh anbiya (nabi-nabi Allah) dalam sejarah umat manusia. Islam membicarakan tentang Nasrani, Yahudi dan Majasi (Hindu, Budha, Animisme, Dinamisme, Agama Filsafati), dalam porsi sebagai sesuatu yang harus disikapi kesalahan-kesalahannya.
Hadlarah Islam terdiri atas dasar iman kepada Allah SWT, dan bahwasanya Dia telah menjadikan untuk alam semesta, manusia dan hidup ini suatu aturan yang masing-masing harus mematuhinya, disamping telah mengutus junjungan kita Nabi Muhammad saw dengan membawa agama Islam. Islam adalah agama yang diturunkan Allah kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw untuk mengatur hubungan manusia dengan Khaliqnya, dengan dirinya dan dengan manusia sesamanya. Islam merupakan pedoman hidup, bukan berupa teologi. Dalam Islam seluruh pemeluknya berkedudukan sama dihadapan agama, tidak ada ahli agama (ulama) ataupun bukan ahli agama. Islam adalah aqidah dan syari’at. Peraturan hidup Islam adalah hukum-hukum syari’at yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia.
ISLAM ADALAH PERATURAN HIDUP YANG SEMPURNA; IYAKAH?
Islam mengatur berbagai aspek kehidupan manusia baik di bidang ekonomi, politik, kebudayaan, sosial, dan lain-lain. Juga menggariskan metode yang benar dan tepat untuk memecahkan kesulitan dalam bidang-bidang tersebut. Islam berusaha mengatur kehidupan manusia. Unsur pokok dalam hal ini adalah mengatur waktu. Islam merupakan satu-satunya ajaran yang paling kuat untuk dapat membahagiakan manusia di dunia dan di akhirat.
Ketika kita menengok pada bidang sosial, ekonomi, dan politik kehidupan, hal yang paling penting untuk dicatat pertama-tama adalah bahwa sebagian besar kaum muda muslim tidak mampu membedakan antara ajaran Islam otentik yang secara umum terpadu dalam struktur sosial dunia Islam tempat mereka tumbuh dengan adat istiadat dan kebiasaan setempat yang juga mengelilingi kehidupan mereka. Maka perlulah bagi mereka suatu pemahaman yang utuh dan benar mengenai sesebagaimana Islam itu adanya. Kesempurnaannya dengan kata-kata syummul wal kaffah, komprehensif dan integral atau utuh dan menyeluruh perlu dipahami dengan realitas keberadaan Islam itu sendiri.
ISLAM SUATU METODE KEHIDUPAN YANG UNIK
Islam adalah suatu pola hidup yang khas, yang sangat berbeda dengan pola hidup lainnya. Islam mewajibkan pemeluk-pemeluknya untuk hidup dalam satu warna kehidupan tertentu secara konstan, tidak berganti dan berubah karena situasi maupun kondisi. Islam mengharuskan mereka untuk selalu mengikatkan diri dengan pola kehidupan tersebut dengan membentuk suatu kepribadian yang menjadikan jiwa dan pikiran mereka tidak akan merasakan ketenangan dan kebahagiaan, kecuali berada dalam pola kehidupan itu.
Islam memberikan batasan-batasan kepada manusia dengan pemikiran tertentu, tetapi tidak membatasi aktivitas berpikir manusia, bahkan memberikan kebebasan kepada akal manusia. Islam pun mengikat perilaku manusia dengan pemikiran-pemikiran dan hukum-hukum tertentu, namun tidak menjeratnya. Bahkan, Islam telah memberikannya keleluasaan.
Demikianlah, Islam mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri, hubungan dengan manusia lainnya, sebagaimana mengatur hubungan dengan Allah SWT dalam suatu keserasian pemikiran. Maka, jadilah manusia sebagai mukallaf (yang dibebani hukum), yang senantiasa manjalani kehidupan ini dengan suatu dorongan (motivasi), metode, arah, dan tujuan tertentu.
Oleh karena itu, seorang muslim akan menjalani kehidupan ini dengan suatu pemahaman yang khas tentang kehidupan. Ia hidup dengan suatu corak dan pola kehidupan yang tertentu pula, sebagai konsekuensi dari pemelukannya terhadap aqidah Islam, dan kewajibannya untuk menaati perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya, serta kewajibannya untuk tetap berpegang teguh kepada hukum-hukum Islam. Jadi, memiliki suatu pemahaman tertentu tentang kehidupan dan menjalani suatu pola kehidupan tertentu, adalah wajib bagi setiap muslim dan seluruh kaum muslimin, tanpa ada keraguan sedikit pun.
Sesungguhnya Islam telah menjelaskan semua itu dengan gamblang dalam Kitab Al Quran dan Sunnah Rasulullah saw, yang tercakup dalam masalah aqidah dan hukum-hukum syari’atnya. Dengan demikian, menjadi jelas bahwa Islam bukan hanya sekedar agama ritual belaka, bukan pula sekedar ide-ide teologi atau kepasturan. Akan tetapi, Islam adalah suatu metode kehidupan tertentu, di mana setiap muslim dan seluruh kaum muslimin wajib menjalani kehidupannya sesuai dengan metode ini.
ISLAM ADALAH PEMAHAMAN BUKAN PENGETAHUAN BELAKA: EPILOGUE
Ketika kita memposisikan Islam sebagai suatu pola kehidupan yang didalamnya penuh dengan pola kehidupan yang wajib dipenuhi oleh para pemeluknya, maka dimana posisi pemahaman itu sendiri. Apakah akan menjadi hal yang absurd (tidak masuk akal) atau terdapat suatu kekeliruan dalam perjalanan benang merahnya tentang Islam ini.
Mafahim (ide yang dianut dan mempunyai fakta) Islam tidak lain adalah pemikiran-pemikiran yang memiliki penunjukkan-penunjukkan nyata, yang dapat ditangkap akal secara langsung, selama masih dalam batas jangkauan akalnya. Namun, bila hal-hal tersebut berada di luar jangkauan akalnya, maka hal itu akan ditunjukkan secara pasti oleh sesuatu yang dapat diindera, tanpa rasa keraguan sedikit pun. Dengan kata lain seluruh pemikiran Islam adalah mafahim, sebab dapat dijangkau oleh akal, atau ditunjukkan oleh sesuatu yang dapat dijangkau oleh akal.
Dengan demikian, sesungguhnya aqidah Islam dan hukum-hukum syara’ bukanlah pengetahuan yang semata-mata untuk dihapal, dan bukan pula sekedar pemuas akal. Tetapi keduanya merupakan mafahim yang mendorong manusia untuk berbuat, menjadikan perbuatannya selalu terkait, terikat, dan teratur karenanya. Atas dasar inilah, maka seluruh ajaran Islam merupakan mafahim yang mengatur kehidupan manusia, bukan sekedar informasi atau pengetahuan belaka.
Ada dua hal yang perlu dipahami di sini, yang pertama bahwa Islam datang dengan membawa mafahim sebagai patokan untuk mengatur tingkah laku dalam kehidupan dunia ini dan menuju kehidupan akhirat, dan yang kedua wajib disadari oleh setiap muslim tentang Dinul Islam, bahwa a-Qur’an dan Sunnah diturunkan tidak lain sebagai din dan syari’at, bukan sekedar pengetahuan atau ilmu belaka.
Sebagai kata basa basi, hendaklah kita mengikuti langkah-langkau benar dalam upaya menjadikan Islam sebagai suatu pemahaman bagi kita. Setiap sel bahkan atompun yang ada dalam diri kita tidak terlepas dari pentahbisan Allah kepada diennya yang kesemuanya akan menjadikan suatu keharusan bagi kita sebagai hambanya untuk paham akan segala yang ada pada diri kita dan akan apa yang akan dan sedang kita lakukan.

ISLAM RAHMATAN LIL ‘ALAMIN

Hanya Akan Terwujud di Bawah Naungan Khilafah

Sebagaimana diketahui, baru saja Konferensi Internasional Cendekiawan Islam di Jakarta diselenggarakan beberapa waktu lalu. Konferensi yang digagas PBNU itu pada akhirnya menyepakati untuk terus mendukung ajaran Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Kesepakatan itu dituangkan dalam Deklarasi Jakarta. Rancangan deklarasi tersebut terdiri dari 19 poin (Republika, 26/2/04).
Deklarasi tersebut di antaranya memuat beberapa hal yang terkesan filosofis sekalipun sebetulnya banyak dipengaruhi oleh arus pemikiran yang dikembangkan Barat. Contohnya adalah poin 1 yang menyatakan percaya sepenuhnya bahwa ajaran Islam mewajibkan umatnya untuk mendukung terwujudnya perdamaian (salam), keadilan (‘adalah), kebebasan (huriyyah), moderat (tawassuth), toleransi (tasamuh), keseimbangan (tawazun), konsultasi (syura) dan persamaan (musawah) sebagai hal mendasar bagi kehidupan".
Beberapa poin di antaranya juga hanya berupa pemikiran dan seruan yang bersifat umum. Contohnya adalah poin yang menyatakan, “percaya bahwa nilai-nilai Islam yang tinggi membutuhkan kerja keras umat agar mampu mewujudkan kesejahteraan dan menghapus kemiskinan.”
Di samping bersifat umum, ia juga tidak memuat metode implementasinya sehingga sebagian besar tampaknya akan berhenti dalam wujud seruan dan deklarasi yang mandul.
Dalam Deklarasi Jakarta yang dihasilkan itu terdapat dua hal yang tampak menonjol: Pertama, seruan mendukung sepenuhnya dialog konstruktif dalam rangka menumbuhkembangkan hubungan saling pengertian dan respek di antara penganut agama yang ada di seluruh dunia. Kedua, seruan mendukung dimulainya pencerahan (renaissance) Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin dengan meneguhkan semangat iqra’ sebagai suatu nilai dasar kebenaran komprehensif.
Seruan dialog antaragama mencakup dialog antara Barat dengan peradaban mereka, yaitu kapitalisme-sekular, berikut keyakinan ruhani mereka yaitu Nasrani (dan Yahudi) di satu pihak serta kaum Muslim dengan Islam dan peradaban Islam di pihak lain. Menurut para penyerunya, dialog antaragama ini dibangun di atas tiga ide dasar: Pertama, kesetaraan dan kesamaan antara agama-agama dan peradaban-peradaban serta tidak adanya keunggulan satu agama dan peradaban terhadap agama dan peradaban yang lain. Kedua, penerimaan terhadap yang lain seperti apa adanya dan penyelidikan (pengkajian) terhadap yang lain tanpa mengeluarkan hukum atau ide yang bertentangan/membantah, tetapi sekadar untuk pemahaman dan pengetahuan tanpa adanya batasan atau syarat tertentu. Ketiga, tawaran atau tujuan dari adanya dialog adalah untuk saling berinteraksi antar agama dan antar peradaban untuk mewujudkan peradaban dan agama yang lebih tinggi dengan jalan mengambil nilai-nilai yang dimiliki secara bersama oleh agama-agama yang berdialog (Islam, Nasrani, dan Yahudi).

Hakikat Dialog Antar Agama/Peradaban
Agama, sebagaimana diketahui, ada dua jenis. Pertama, agama yang memiliki serangkaian konsepsi kehidupan seperti Islam. Islam merupakan agama ruhiah sekaligus agama siyâsiyah (politik). Islam juga memberikan serangkaian konsepsi untuk mengatur kehidupan. Kedua, agama yang tidak memiliki konsepsi kehidupan seperti Nasrani, Yahudi, dan agama-agama lain di luar Islam.
Dengan kerangka dialog seperti di atas, kita akhirnya tahu bahwa Islam berusaha disejajarkan dengan agama-agama lain, yakni sekadar sebagai agama ruhiah saja, sembari diabaikan sisi politiknya. ‘Islam politik’, kalaupun diambil, tidak lebih hanya “substansinya” saja, bukan dalam bentuk legal-formalnya. Artinya, sebagian besar ajaran Islam harus dibuang atau ditafsirkan ulang dan diambil substansi atau nilai moralnya saja. Jika tidak, hal itu dianggap akan merusak dialog dan bertentangan dengan ruh dialog.
Dengan demikian, seruan dialog antaragama dan peradaban sesungguhnya tidak lebih sebagai upaya untuk mengebiri Islam. Dari dialog antaragama/antarperadaban, yang diuntungkan adalah peradaban kapitalisme-sekular, karena ia justru menjadikan kaum Muslim menanggalkan Islam dari kehidupan. Islam tidak boleh menjadi peradaban dan ideologi untuk mengatur kehidupan. Dengan dialog ini pula, ideologi dan peradaban kapitalisme-sekular justru semakin kokoh dan tidak ada yang menjadi tandingannya dan Barat kapitalis akan semakin leluasa dan berkuasa menjajah dan menguras kekayaan Dunia Islam.
Di samping itu, menurut Dr. Ameer Ali, salah seorang cendekiawan Muslim dari Australia, Islam semakin ditakuti dan dianggap musuh besar kokohnya hegemoni AS dan kekuatan globalisasi (Republika, 25-02-04). Untuk memperlancar semua itu harus dikembangkan pemikiran untuk melakukan penafsiran ulang terhadap Islam. Di sinilah seruan pencerahan (reanissance) agaknya memiliki relevansinya. Istilah pencerahan ini sebenarnya istilah yang populer pada abad pertengahan di Eropa. Pencerahan Eropa ini ditandai dengan adanya revolusi pemikiran di segala bidang yang mendapat tantangan dari raja-raja dan pendeta, yang kemudian mengakibatkan pergolakan berdarah antara raja dan agamawan dengan para cendekiawan dan rakyat. Penyelesaian pergolakan ini terjadi dengan kompromi yang menghasilkan gagasan sekularisme, yakni gagasan untuk memisahkan agama dari pengaturan negara dan kehidupan. Sekularismne inilah yang menjadi akidah mereka, yang kemudian menjadi dasar dari ideologi/peradaban kapitalisme Barat, yang salah satu instrumennya adalah demokrasi.
Dengan demikian, istilah pencerahan (renaissance) ini sesungguhnya identik dengan sekularisme. Pengistilahan renaissance Islam akhirnya bisa disalahpahami sebagai sekularisme Islam. Apakah memang ini yang dimaksud? Wallâhu a‘lam. Yang pasti, dengan dialog antaragama dan antarperadaban, Islam akhirnya hanya akan diambil substansi dan nilai moralnya saja. Pada gilirannya, istilah Islam rahmatan lil ‘alamin seolah-olah dimaknai sebagai Islam yang harus mentoleransi peradaban kufur, yakni peradaban kapitalis-sekular. Dengan kata lain, Islam akhirnya dikebiri dan dikerdilkan.

Pencerahan yang Sesungguhnya
Bagi kaum Muslim, pencerahan yang sesungguhnya adalah dengan mengambil dan menggenggam erat cahaya (petunjuk) Allah yang akan mengeluarkan kita dari kegelapan menuju cahaya, bukan dengan mengambil apa yang dibawa oleh orang kafir karena justru akan menenggelamkan kita ke dalam kegelapan. Allah SWT berfirman:
اللهُ وَلِيُّ الَّذِينَ ءَامَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Allah Pelindung orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) menuju cahaya (iman). Sementara itu, orang-orang kafir, pelindung-pelindung mereka ialah thâghût, yang mengeluarkan mereka dari cahaya menuju kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS al-Baqarah [2]: 257).

Mengambil petunjuk Allah dalam kehidupan artinya menjadikan Islam sebagai sistem kehidupan. Dengan itulah Islam akan secara sempurna menjadi rahmatan lil ‘alamin. Menurut Dr. Wahbah az-Zuhayli, dosen Universitas Damaskus, salah seorang pemateri Konferensi, penerapan Islam memerlukan adanya negara (Islam) (Kompas, 25/02/04). Namun sayangnya, dalam hal bernegara ini, yang merupakan sarana paling ideal untuk menerapkan segala ajaran Islam, ternyata tak ada satupun (negara yang ada saat ini) yang dapat dikatakan sebagai negara Islam. (Republika, [Dialog Jumat], 27/2/04).
Oleh karena itu, umat Islam harus mewujudkan format negara yang dikehendaki oleh Islam dan telah dicontohkan oleh Rasul dan para sahabat. Format negara yang sesuai dengan penamaan Rasul dan telah menjadi Ijma Sahabat adalah Khilafah Islamiyah.

Kewajiban Menegakkan Khilafah
Prof. Abd al-Raheem Ali Muhammad Ibrahim, ulama besar Sudan, yang juga salah seolah pembicara Konferensi, berucap, “Umat Islam wajib menegakkan kesatuan umat atau Khilafah dengan satu pemimpin atau khalifah sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah dan diikuti oleh para khallifah beliau dulu. Umat Islam di setiap negara perlu menanamkan pada hatinya tentang wajibnya Khilafah itu ditegakkan dan selangkah demi selangkah sehingga diharapkan umat Islam memiliki satu pemimpin, satu khalifah bagi Dunia Islam.”
Dengan demikian, Khilafahlah yang akan dapat menyatukan seluruh potensi umat dan negeri-negeri Islam sehingga seluruhnya dapat bahu-membahu mengatasi segala problem yang terjadi dan bersama pula mengemban Islam sehingga menjadi rahmatan lil ‘alamin. Kita menyaksikan pada masa dulu Khilafah mampu mewujudkan kesejahteraan seperti pada masa Khalifah Umar bin Abd al-‘Aziz, Khalifah Harun ar-Rasyid, Khalifah Sulaiman al-Qanuni, dsb. Kondisi tersebut sampai sekarang masih menjadi mimpi umat yang tidak dapat terwujud di bawah negara sekular demokrasi.
Walhasil, Khilafah harus terus diperjuangkan dan diwujudkan. Untuk itu, umat Islam harus bersatu dan melakukan revolusi pemikiran. Caranya adalah dengan mewujudkan kesatuan umat dalam kesatuan akidah, kesatuan pandangan mengenai konsepsi kehidupan, dan kesatuan tujuan untuk merealisasikan Islam di tengah-tengah kehidupan dengan metode negara Khilafah Islamiyah. Upaya ini dapat terealisasi dengan jalan:
(1) Membina umat dengan pemikiran dan hukum-hukum Islam hingga menjadi konsepsi hidup mereka.
(2) Menyerang ide, pemikiran, dan hukum-hukum rusak yang ada di tengah-tengah masyarakat dan menyingkap kepalsuannya sehingga umat menolaknya dan menggantinya dengan Islam.
(3) Membongkar kezaliman dan kebejatan para penguasa.
(4) Menyeru Ahlul Quwah untuk memeluk Islam secara kaffah dan menyerahkan kekuasaan kepada pemimpin Islam yang mampu menjalankan pemerintahan berdasarkan Al Quran dan Sunnah Rasulullah SAW.

Dengan jalan inilah akan terwujud barisan umat yang kokoh dan dengan pertolongan Allah Khilafah Islamiyah akan segera tegak dan Islam rahmatan lil ‘alamin terealisasi. Allah SWT berfirman:
وَعَدَ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي اْلأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ…
Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka. (QS. An-Nûr [24]: 55)[]

PENGERTIAN SYAKHSHIYYAH DAN SYAKHSIYAH ISLAMIYYAH (Kepribadian Islam)

Kepribadian dalam bahasa Arab disebut as-syakhshiyyah, berasal dari kata syakhshun, artinya, orang atau seseorang atau pribadi. Kepribadian bisa juga diartikan identitas seseorang (haqiiqatus syakhsh). Syekh Taqiyuddin An Nabhani dalam As Syakhshiyyah Al Islamiyyah jilid I halaman 5, menyatakan bahwa kepribadian atau syakhshiyyah seseorang dibentuk oleh cara berpikirnya (aqliyah) dan caranya berbuat untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan atau keinginan-keinginannya (nafsiyah).
Tinggi rendah identitas atau jati diri seseorang tergantung dari kemampuan berpikirnya dan tingkah laku atau aktivitas hidupnya. Secara nyata bisa kita amati di sekeliling kita. Dalam suatu lingkungan masyarakat, bangsa atau negara muncul orang-orang tertentu yang menjadi pemimpin dan penggerak massa. Mereka mempunyai kelebihan-kelebihan tertentu dalam bidang pemikiran dan pemecahan problema masyarakat. Pemikiran yang mereka lontarkan berkembang, diterima dan menggerakkan tiap-tiap pribadi yang mengikutinya. Aktivitas dan program-programnya mempengaruhi aktivitas kehidupan orang banyak. Orang-orang seperti ini tidak selalu dari kalangan bangsawan atau memiliki harta kekayaan yang berlimpah. Mahatma Gandhi misalnya, mampu menggerakkan bangsa India dengan kesederhanaannya. Thalut, memimpin Bani Israil untuk membebaskan diri dari kezhaliman bangsa penjajah, tanpa mempunyai kekayaan. Allah SWT mengabadikan fakta sejarah ini dalam firman-Nya:

"Nabi mereka menyatakan kepada mereka (Bani Israil): 'Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu'. Mereka menjawab: 'Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?'. Nabi (mereka) berkata: 'Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa'. Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Allah Mahaluas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui'." (QS Al Baqarah:247).
Kita jumpai pula di masyarakat adanya orang-orang yang hanya menjadi beban, bahkan menjadi sampah masyarakat. Mereka tidak mampu memecahkan masalah mereka sendiri, apalagi memecahkan masalah masyarakat. Di antara dua contoh ekstrim di atas; ada orang-orang yang mampu menyelesaikan masalah-masalahnya sendiri, tetapi tidak mampu atau tidak mau memecahkan problema orang lain. Mereka sibuk dengan dirinya sendiri. Mereka menghabiskan waktu, tenaga dan pikirannya untuk menggeluti kesenangannya sendiri. Orang-orang demikian tidak banyak berpikir dan bekerja kecuali untuk dirinya. Hati mereka terpisah dari masyarakat.
Posisi seseorang di suatu masyarakat tergantung dari seberapa tinggi kualitas hubungan (nilai interaksi) dirinya dengan anggota masyarakat yang lain. Kualitas hubungan itu berupa nilai aktivitas (amal) yang terjadi yang melibatkan dirinya dengan orang-orang lain. Nilai aktivitas yang dirasakan oleh pribadi-pribadi terkait tersebut menimbulkan tanggapan, dan sampai taraf tertentu berupa suatu pengakuan terhadap orang tersebut apakah dia orang besar, berpengaruh, orang biasa-biasa saja atau orang kecil. Apakah dia orang alim, atau orang jahil. Apakah dia orang dermawan, orang yang sedang-sedang saja, atau orang bakhil/pelit. Apakah dia orang kuat, sedang atau lemah. Apakah dia orang yang pemberani atau penakut (pengecut). Apakah dia orang yang adil atau zhalim. Apakah dia orang yang amanah (terpercaya) atau khianat (menyeleweng). Apakah dia orang jujur atau suka menipu. Apakah dia pahlawan pembela kebenaran atau gembong kejahatan.
Oleh karena itu, terbentuknya tingkat kepribadian seseorang di dalam masyarakat berkaitan dengan nilai aktivitas yang dia lakukan dalam berinteraksi dengan pribadi-pribadi anggota masyarakat yang lain. Yang menjadi masalah sekarang adalah, apa sesungguhnya yang menentukan nilai aktivitas atau amal perbuatan yang ia lakukan?
Nilai Aktivitas
Suatu perbuatan yang dilakukan seseorang tidak lain adalah merupakan pemuasan terhadap kebutuhan-kebutuhannya. Dia lapar, maka dia butuh makan. Oleh karena itu, dia berusaha untuk mendapatkan makanan. Kebutuhan orang tidak hanya makan, minum atau buang hajat. Dia perlu juga menjaga kelestarian keturunannya, maka di menikah dan mempunyai anak. Dia butuh mempertahankan eksistensinya, maka dia berusaha mempunyai rumah, mempunyai kendaraan, mempunyai jabatan. Dan dia berusaha menjaga gengsi atau martabatnya.
Semuanya itu dinamakan perbuatan atau aktivitas yang merupakan pemuasan dari kebutuhan-kebutuhan, baik kebutuhan jasmani (haajatul 'udlowiyah) maupun kebutuhan naluri (gharizah). Dan karena semua manusia berusaha memenuhi kebutuhannya, maka terwujudlah berbagai macam perbuatan dan interaksi antar individu di dalam masyarakat.
Dengan demikian, perbuatan manusia itu bersumber dari apa yang ada di dalam dirinya. Apa yang ia butuhkan, apa yang ia rasakan, dan apa yang ia inginkan. Perasaan dan keinginan itu mempunyai pusat atau lubuk yang dikenal sebagai hati. Kita sering mendengar ungkapan, “Dia telah mengungkapkan isi hatinya dari lubuk yang paling dalam.”
Dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhary dan Muslim (Hadits ke-6 dari Kitab Arba'in An Nawawiyyah), Rasulullah SAW bersabda:
"...Ingatlah, bahwa di dalam jasad itu ada sekerat daging. Jika ia baik, baiklah jasad seluruhnya. Dan jika ia rusak, rusaklah jasad seluruhnya. Ingatlah, daging itu adalah hati."
Dari hadits tersebut dapat kita pahami bahwa baik buruknya hati manusia mempengaruhi baik buruknya perbuatan yang dilakukan oleh seluruh anggota jasad (badan) manusia. Artinya, apa yang dilakukan tangan, kaki, mata, telinga dan mulut manusia ditentukan oleh keinginan-keinginan yang muncul dari hatinya.
Lalu siapakah yang menyebabkan baik buruknya hati manusia, sementara kita tahu ia dilahirkan dalam keadaan suci (fithrah). Ternyata keinginan manusia itu dipengaruhi oleh pemahaman (mafhum) yang ia miliki. Pemahaman itu dibentuk oleh pengetahuan dan pengalamannya. Seorang yang belum pernah mendengar kata-kata komputer tidak akan terbersit dalam hatinya untuk menulis surat di layar komputer. Demikian pula seorang calon istri yang belum pernah melihat mobil Cadilac, tidak akan memilih mobil yang menjadi kebanggaan para eksekutif di Amerika itu untuk hadiah pernikahannya.
Oleh karena itu, kalau kita amati lebih jauh, kepribadian seseorang yang tampak dalam bentuk penampilan dan aktivitasnya dalam interaksinya dengan pribadi-pribadi lain anggota masyarakat, ternyata bertumpu kepada simpanan-simpanan pemikiran yang dimilikinya serta keinginan-keinginan yang tersembunyi di dalam hatinya. Baik buruknya pribadi itu, kuat lemahnya pribadi itu, agung rendahnya pribadi itu, tergantung kadar simpanan pemikiran dan keinginannya. Bagaimana cara berpikirnya dan bagaimana caranya memenuhi keinginan-keinginan pribadinya, itulah warna kepribadiannya, identitas pribadinya dan jati dirinya. Rasulullah SAW. bersabda:
"Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk badan dan rupamu, tetapi langsung melihat/memperhatikan niat dan keikhlasan dalam hatimu." (HSR Muslim dalam Riyadlush Sholihin Imam Nawawy).
Diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Ibnu Majah dari sahabat Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk rupamu dan hartamu, tetapi akan memperhatikan hati dan perbuatanmu."
Jelaslah, bahwa pembentuk kepribadian dan ukuran-ukuran penilaian suatu kepribadian bukanlah harta seseorang, bentuk rupanya, badannya atau hal-hal fisik lain yang hanya merupakan asesori atau menjadi kulit-kulit luar suatu kepribadian, melainkan isi dalam diri seseorang, yakni cara berpikirnya dan sikap jiwanya.
Dengan demikian jelaslah bagi kita bahwa syakhshiyyah Islamiyyah atau kepribadian Islam adalah perpaduan antara cara berfikir Islami (aqliyyah Islamiyyah) dan sikap jiwa Islami (nafsiyyah Islamiyyah) yang terdapat dalam diri seorang muslim. Seorang muslim bisa dikatakan memiliki cara berfikir yang Islami (aqliyyah Islamiyyah) manakala ia sudah bertekad untuk memikirkan segala sesuatu dan setiap problema yang dihadapinya dengan cara pandang dan cara-cara pemecahan Islam. Ia hanya bertekad hanya akan menggunakan kaca mata Islam. Seorang muslim bisa dikatakan memiliki sikap jiwa Islami (nafsiyyah Islamiyyah) manakala dia telah bertekad untuk membimbing dan memenuhi segala keinginan hawa nafsunya dengan cara-cara pemuasan Islam. Rasulullah saw. bersabda:
"Tidaklah beriman salah seorang di anatara kalian hngga ia membimbing hawa nafsunya selalu mengikuti apa (Islam) yang kubawa ini" (HR. Imam Nawawi).
Dengan demikian seorang muslim baru dikatakan memiliki kepribadian Islam (syakhshiyyah Islamiyyah) manakala ia telah bertekad dalam hatinya untuk selalu memiliki aqliyyah Islamiyyah dan nafsiyyah Islamiyyah. Seorang muslim tidak mungkin bertekad seperti itu manakala belum memahami dan memiliki aqidah Islamiyyah secara benar. Aqidah Islamiyyah yang tidak lain adalah keimanan kepada Allah SWT, para malaikatNya, Al Qur'an dan kitab-kitabNya yang lain, Nabi Muhammad Saw. dan para Rasul-Nya yang lain, hari kiamat, dan qadla-qadar-Nya adalah pemikiran yang paling mendasar yang akan menjadi standar bagi seluruh pemikiran-pemikiran lain yang diproses oleh akal seorang muslim. Oleh karena itu, memperoleh aqidah Islamiyyah ini harus melalui proses berfikir. Imam As Syafi'i r.a. dalam Fiqhul Akbar mengatakan bahwa kewajiban pertama bagi seorang mukallaf adalah berfikir tentang dirinya dan alam semesta ini hingga mendapatkan kesimpulan bahwa Allah adalah Rabbul'alamin (Pencipta dan Pemelihara sekalian alam).
Pencapaian aqidah melalui proses berfikir, meneliti, dan mengamati adalah aqidah yang sesuai dengan fitrah manusia dan memuaskan akal seorang muslim. Aqidah yang diperoleh melalui warisan semata atau sekedar hafalan rukun iman seperti yang diajarkan kepada murid sekolah dasar tidak akan menghunjam kuat pada hati seseorang, tidak menjadi mafahim atau pandangan hidup baginya, dan tidak menentukan pola berpikir maupun pola sikap dan jiwanya. Oleh karena itu, jika ingin menghasilkan kepribadian Islam yang unggul maka harus diintroduksikan kepada kaum muslimin aqidah Islam yang diperoleh melalui proses berfikir ini sehingga akan terbentuk pribadi-pribadi yang memiliki kemajuan dan kebangkitan dalam cara berpikir dan dalam pengendalian diri .

TRIK NYEMBELEH HEWAN YANG ISLAMI


Berbicara masalah halal-haram pada binatang, sering kita hanya terfokus pada masalah jenis binatangnya, yaitu yang penting bukan babi. Tuntunan agama menekankan juga pada masalah lain yang sangat esensi yang menyangkut masalah pokok kita beragama yaitu aqidah yang tercermin dari pentingnya memperhatikan siapa penyembelihnya dan apa motif atau niat penyembelihannya. Islam menetapkan syariat cara penyembelihan hewan, yang juga menentukan halal dan haramnya daging beserta produk lainnya.
Kadang kita terjebak dengan fakta bahwa mayoritas masyarakat Indonesia adalah muslim, sehingga berfikir otomatisasi yaitu semua daging pasti sudah dilakukan penyembelihan sesuai dengan syariat agama Islam, dan tidak mau tahu atau paling tidak kurang memperhatikan bahwa praktek penyembelihan itu ada berbagai macam cara yang belum tentu sesuai dengan syariat agama Islam.
Pedoman Alquraggung teater? "Ah, tidak! Dia sedang sibuk menyiapkan sebuah pertunjukan kolosal. Mas Willy akan memberi kejutan bagi para pecinta teater Indonesia," kata penyair Yose Rizal Manua, anggota senior Bengkel Teater, di Jakarta, Ahad (30/03) lalu. "Mas Willy belum 'mati'. Ia masih terus berkesenian," tambahnya.
Yos tidak mengada-ada. Rendra kini masih 'berputar' terus seperti gasing. Mempersiapkan pertunjukan baru, menulis puisi dan esei, menulis dan mengisi berbagai diskusi dan seminar, membaca sajak, dan keliling ke berbagai daerah serta luar negeri. Usia boleh senja. Tapi semangat masih menyala. Dan yang paling penting Rendra tetap produktif.
"Yang terkhir ini Mas Willy berceramah keliling Eropa. Apa topiknya coba? Dia diminta bicara soal kelautan Indonesia. Dan, ketika Perang Teluk II meledak, Mas Willy pun banyak diminta untuk berbicara soal demokrasi dan serangan Amerika Serikat ke Irak," tambah Yos Rizal.
Rendra memang salah satu ikon budaya Indonesia. Melalui tangannya telah lahir banyak karya bermutu. Dramanya, Kasidah Barjanzi, memecahkan box office pertunjukan teater di Taman Ismail Marzuki, dan sampai kini rekor penonton Kasidah Barzanji belum terpecahkan. "Sekitar 31 tahun lalu drama ini dipentaskan di Aceh. Setahun kemudian di Taman Ismail Marzuki. Sambutannya luar biasa," cerita Yos Rizal.
Karya teater yang juga monumental dan naskahnya dia tulis sendiri, antara lain Sekda, Perjuangan Suku Naga, dan Mastodon dan Burung Kondor. Rendra juga dikenal sukses ketika mementaskan naskah-naskah terjemahan, seperti Machbeth dan Julis Caesar karya William Shakespeare.
Berbicara tentang Rendra tak ubahnya berbicara tentang perkembangan kesenian Indonesia. Banyak seniman mumpuni yang telah lahir dari tangannya. Bahkan, banyak kalangan menyebut, bila diurut, hampir semua seniman Indonesia yang besar lahir dari komunitas Willy (Bengkel Teater) dan orang-orang kreatif di sekitarnya. Sebut saja misalnya, Arifien C Noer, Putu Wijaya, dan Chaerul Umam. Mereka adalah jebolan Bengkel Teater.
Banyak nama besar yang sudah hilang dari jagat kesenian Indonesia. Arifien C Noer sudah lama meninggal, begitu juga dengan Umar Kayam, dan sepekan lalu menyusul pulang ke rahmatullah budayawan ranah Minang, AA Navis. Sementara, nama baru belum juga muncul. Kalau pun ada, seperti dikatakan Sutardji C Bachri, kemunculan sosok baru hanyalah beberapa figur yang suka berpikir rumit dengan menelan mentah pikiran asing dan berbicara serta menulis dengan ruwet.
"Entah apa yang dipikirkan orang Indonesia. Begitu-begitu saja. Ibaratnya kalau makan bayam yang ke luar juga bayam. Bukan seperti si Popye makan bayam kemudian ke luar energi atau sesuatu yang baru. Payah!" begitu kata-kata yang acap kali diucapkan Sutardji C Bachri setiap kali berbicara tentang perkembangan seni-budaya Indonesia.
Pada dekade 1970-an, manakala sistem politik yang represif dari pemerintah Orde Baru begitu kuat menekan seniman, Rendra dengan nyaring menentangnya. Melalui sajak-sajaknya dalam kumpulan puisi Potret Pembangunan Indonesia, ia mengeritik pedas penguasa yang mulai semena-mena.
Sikap kritis Rendra itu menyedot perhatian hampir semua pengamat dan pecinta seni-budaya. Setiap pertunjukannya, baik baca puisi maupun pentas teater, selalu diserbu pengunjung. Kampus-kampus besar, seperti UI dan UGM, pun menjadi langganan pertunjukan baca puisi kritiknya. Panggung-panggung teater juga dijelajahinya, bahkan sampai ke Amerika Serikat, Australia, dan Eropa. Karena kritisnya, Rendra sempat ditangkap inatang buas itu (waktu melepasnya). Dan bertaqwalah kepada Allah sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya.'' (QS. 5:4)
Berbagai Hadis Nabi menjelaskan rincian dari makna surat Al A'raaf (7:157) tentang Al Khabaaits (menghalalkan bagi mereka yang segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk…). Di antaranya adalah:
o Rasulullah melarang memakan keledai kota pada perang khaibar (HR Bukhari dan Muslim)
o Rasulullah melarang makan semua binatang buas yang bertaring (HR Bukhari) dan burung yang berkuku mencengkeram (HR Muslim)
o Binatang yang diperintahkan untuk membunuhnya (gagak, ular, tikus, anjing galak dan burung elang (Sabda Rasulullah: Lima binatang jahad hendaknya dibunuh, baik di tanah halal maupun ditanah haram, yaitu ular, gagak, tikus, anjing galak dan burung elang. (HR Muslim)
o Haram karena dilarang membunuhnya : Nabi melarang membunuh 4 binatang yaitu Abtor (sejenis semut), tawon, burung teguk-teguk dan burung suradi (HR Ahmad)
o Haram karena menjijikan (Jallalah)
2. Niat dan ucapan ketika menyembelih, yaitu disebut nama Allah (Al Hajj (22): 34 , Al An'aam (6): 118-121). ''Maka makanlah binatang-binatang (yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, jika kamu beriman kepada ayat-ayat-Nya.'' (QS. 6:118)
''Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya. Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar-benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas.'' (QS. 6:119).
Menyebut Asma Allah ketika melakukan penyembelihan terhadap binatang haruslah dilakukan. (QS 6:121, QS 22:34). Selain itu Rasulullah SAW juga menjelaskan pentingnya hal ini melalui hadisnya: "Diterima dari Adi bin Hatim, katanya: Saya tanyakan kepada Rasulullah tentang buruan, maka jawabnya: Jika kamu melepaskan anak panahmu, maka sebutlah nama Allah "(HR Bukhari dan Muslim). Ada pun penyembelih yang memenuhi kriteria di atas yaitu Muslim. Syarat penyembelihan halal lainnya :
3. Metode penyembelihan dilakukan dengan ikhsan
Alatnya tidak terbuat dari kuku, gigi dan taring (hadis : Diterima dari Rafi bin Khadij RA, bolehkah kita menyembelih dengan sembilu? Jawab Rasullullah, ''Apa-apa yang mengalirkan dan disebut nama Allah, maka makanlah, asal saja bukan gigi dan kuku karena itu adalah tulang.''(HR Bukhari, Muslim, Abu Daud, Turmudzi, Nasa'i dan Ibnu Majah).

Dari Syaddad bin Aus, Rasulullah SAW bersabda: ''Sesungguhnya Allah menuntut kebaikan itu atas segala sesuatu. Maka jika kamu membunuh, perbaikilah cara pembunuhan itu, dan jika kamu menyembelih, perbaikilah cara penyembelihan! Dan hendaklah masing-masing kamu menajamkan pisaunya dan menyenangkan hewan sembelihannya. (HR Ahmad, Muslim, Nasa'i dan Ibnu Majah).

Dari Ibnu Umar, Rasulullah SAW menyuruh mengasah pisau dan menyembunyikannya dari hewan. Beliau bersabda: ''Jika salah seorang diantara kamu menyembelih, maka hendaklah dilakukannya dengan cepat!'' (HR Ahmad dan Ibnu Majah). Tidak boleh sengaja dicekik dan atau dipukul. "Diharamkan bagimu memakan bangkai, darah, daging babi, daging hewan yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk dan yang diterkam binatang buas; kecuali yang sempat kamu menyembelihnya...." ((QS 5:3)). Dari Adi bin Hatim RA, dia bertanya pada Rasullullah tentang buruan yang mati terbunuh kena mi'radh. Sabda Rasul, ''Jika yang mengena ujungnya yang runcing (tajam), makanlah. Jika yang mengena lintangnya, berarti buruan itu mati kena pukul, dan janganlah menyantapnya.'' (HR Bukhari).
4. Untuk kesempurnaan disunahkan memotong dua urat di kanan dan dikiri pada pangkal leher dengan memotong tiga saluran utama: pernafasan, makanan dan saluran darah (arteri & vena). Pada saat penyembelihan, hewan dihadapkan ke kiblat, kemudian dibacakan takbir dan shalawat atas Nabi SAW. Darah dituntaskan secara sempurna (Al An'aam: 145, Al Maaidah: 3)

Praktek Penyembelihan
Ada beberapa praktik atau cara penyembelihan binatang yang berlaku di masyarakat dan di industri. Antara lain:
a. Penyembelihan tradisional, yaitu penyembelihan binatang yang dilakukan seperti umumnya di pedesaan di Indonesia misalnya, yaitu hewan langsung dijegal dan dipotong lehernya sehingga setelah dipotong kadang-kadang hewannya juga masih jalan-jalan atau bahkan masih bisa terbang untuk bebek dan angsa, misalnya.
b. Penyembelihan modern di industri pemotongan hewan:
- Hewan dipuasakan terlebih dahulu.
- Sesaat sebelum penyembelihan dilakukan pemingsanan terlebih dahulu dengan tujuan agar hewan ketika disembelih tidak banyak mengalami berontak yang dapat menurunkan mutu dagingnya.

Teknik pemingsanan: ada beberapa cara, yaitu cara pembiusan dengan bahan kimia (seperti cloroform, gas CO2, N2, dll), pemingsanan dengan aliran listrik (paling banyak dipakai) yaitu hewan disetrum pada bagian sekitar otak kecil hewan, pemingsanan dengan pemukulan yaitu hewan dipukul kepalanya pada bagian otak besar dan pemingsanan dengan penembakan. Cara pemingsanan yang 2 terakhir ini perlu mendapatkan perhatian khusus, karena kalau penyembelihannya tidak secepatnya maka hewannya keburu mati.
- Setelah hewan dipingsankan, maka hewan disembelih dengan tujuan untuk mematikan dan mengeluarkan darahnya. Cara yang lazim kita lihat yaitu penyembelihan dengan memutuskan tiga urat leher utama (saluran pernafasan, saluran makanan dan saluran darah yaitu arteri dan vena).
- Proses selanjutnya pengulitan, pengeluaran jeroan, penirisan, pelayuan dan pengkelasan daging.

Kasus-kasus penyimpangan
Bila diperhatikan dengan seksama, kita masih bisa menjumpai praktik-praktik menyimpang sebagai berikut:
- Pembacaan doa atau Basmallah: sekali untuk ribuan binatang, doa dengan kaset, doa melalui telefon, doa bukan oleh Muslim.
- Hewan mati dalam keadaan tidak sengaja dimatikan atau sengaja sama sekali tidak disembelih (Al maidah : 3) yaitu yang mati tertanduk dsb, ada juga jenis kematian yang termasuk dalam kategori ini misalnya yaitu mati selama transportasi ke pejagalan, hewan mati karena sakit, dll.
- Hewan mati bukan karena disembelih; termasuk kategori ini misalnya yaitu ayam yang mati karena ditarik dan diplintir lehernya. Dan secara teknologi modern (di negara-negara tertentu khusunya di Eropa) ada juga cara pematian yang tidak melalui proses penyembelihan untuk mengeluarkan darahnya, namun melalui proses penusukan jantungnya, juga perlu direnungkan yaitu hewan yang sebelum disembelih dilakukan pemingsanan dengan cara pemukulan dan penembakan pada kepalanya.
- Dilakukan penyiksaan yang tidak wajar: sapi glonggong.
- Hal lain yang perlu dicermati adalah peralatan digunakan bergantian antara binatang haram dengan binatang halal.

Kesimpulan
Penyembelihan hewan, menurut Syariat Agama Islam, haruslah memenuhi persyaratan berikut:
1) Binatang yang disembelih harus halal.
2) Disebut Nama Allah (Basmallah) (Al Hajj (22): 34 , Al An'aam (6): 118-121).
3) Tidak disebut nama selain Allah (2:173), dan dilakukan oleh orang Muslim.
4) Menyembelih dengan baik (ikhsan).
5) Tidak menggunakan gigi/taring, kuku atau tulang (HR Muslim, Bukhari, Abu Daud, Turmudzi, Nasa'i dan Ibnu Majah).
6) Tidak boleh sengaja dicekik dan atau dipukul (Al Maaidah: 3).
7) Darah keluar sempurna (Al An'aam: 145, Al Maaidah: 3). Selain itu, disunahkan menghadapkan binatang ke kiblat, bertakbir dan bersholawat atas Nabi SAW dan disembelih di pangkal leher dengan memotong dua urat di kanan dan dikiri yang meliputi tiga saluran utama: pernafasan, makanan dan saluran darah
(arteri & vena).

Penulis :Dr Ir Djoko Hermanianto

HUKUM RENTENIR


Assalamualaikum Wr. Wb.

salah satu ayat tentang riba :
ini ayat Al Baqarah 275 :

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَوا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنْ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُوْلَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

ini saya tambahkan :

Hadist Nabi Muhammad SAW :

Rasulullah Saw. bersabda:
“Barang siapa yang mengumpulkan harta dari jalan yang haram, kemudian dia menyedekahkan harta itu, maka sama sekali dia tidak akan memperoleh pahala, bahkan dosa akan menimpanya.”

HR Ibn Khuzaimah, Ibn Hibban, dan al-Hakim

dari hadist tersebut sudah jelaskan dan pastinya kamu bisa mengertikan ^_^

itulah dia yang menjadi dilema di dunia ini
mungkin karena faktor pendidikan agama yang kurang.. entah itu muslim maupun non muslim, di samping itu orang-orang menganggap pekerjaan tersebut lebih praktis dalam mencari keuntungan yang sangat besar dan menggiurkan tersebut..

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

HUKUM KAWIN LARI


SAYA mau tanya, Saya beragama Islam, pada awal 2006 lalu saya pernah kawin lari dengan pacar saya karena orang tua saya tidak setuju dengan pilihan saya. Saya kawin tanpa sepengetahuan orang tua saya. Ini hanya berjalan sekira dua bulan karena tidak ada kecocokan. Semua itu saya lakukan dengan calon suami saya tanpa diketahui oleh orang tua. Pada pertengahan 2007 orang tua saya menjodohkan saya dengan laki-laki lain pilihan orang tua saya dan kami pun married. Yang ingin saya tanyakan bagaimana dengan status perkawinan saya terdahulu, bagaimana akibat hukumnya?

JAWAB : Kami mengucapkan banyak terima kasih atas pertanyaan yang diajukan ke Redaksi, mudah-mudahan kasus-kasus seperti ini tidak akan terjadi lagi di masyarakat kita setelah ada uaraian singkat dari kami.

Jika kita sama-sama memahami arti perkawinan seperti yang telah diatur dalam Undang-undang perkawinan bahwa perkawinan ialah ikatan lahir dan batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Dengan mengacu pada Undang-undang tersebut sudah jelas bahwa perkawinan bukanlah permainan yang dapat dipermainkan sesukanya, kapan mau married dan bulan berapa saya harus cerai, melainkan perkawinan yang kekal untuk selamanya.

Peristiwa yang Anda alami sungguh sangat singkat. Anda telah menentukan pasangan hidup sendiri dan sekitar hampir enam bulan Anda harus mengkhiri perkawinan, bukankah pendamping hidup yang anda ajak married adalah pilihan Anda?

Kawin lari biasanya jalan pintas apabila calon pendamping hidup kita tidak dapat disetujui orang tua, tetapi sesungguhnya anda tidak memperhitungkan dampak dari kawin lari serta bagaimana apabila di kemudian hari timbul masalah. Permasalahan kawin lari tentunya tidak memenuhi Rukun dan Syarat Perkwinan.

Hal tersebut dijelaskan dalam pasal 14 Kompilasi hukum Islam tentang Rukun dan syarat perkawinan yaitu adanya calon suami, adanya calon istri, adanya wali nikah, ada dua saksi dan adanya ijab dan kabul. Pada waktu Anda melakukan perkawinan harus ada wali nikah, mengingat orang tua anda laki-laki masih hidup, maka wali nikah untuk perkawinan yang Anda lakukan harusnya dari orang tua kandung, jika Anda kawin lari/diam-diam tanpa sepengetahuan orang tua, lantas siapa wali nikah Anda pada waktu itu. ?...

Sayang sekali kejadian tersebut Anda tidak berterus terang serta jujur kepada orang tua. Orang tua pun terkecoh dengan dengan perbuatan Anda, sehingga orang tua Anda menikahkan kembali, padahal perkawinan yang terdahulu belum berakhir.

Andaikan Anda jujur dengan orang tua, maka jalan yang ditempuh oleh orang tua Anda dapat membatalkan pernikahan tersebut karena Rukun dan syarat perkawinan tidak terpenuhi, orang tua dapat membatalkan perkawinan yang dianggap cacat tersebut, karena orang tua laki-laki masih bisa jadi wali nikah.(*)

Salam Advokasi,
Tutup Sardi, SH

TEMA PEMAHAMAN MAKNA IBADAH MENUJU HAJI MABRUR


لحمد لله . الحمد لله الّذى دعاعباده ا لأبر ار. الى أشرف بيت وأعظم مز ار. ويحطّ عنهم الذّ نوب وا لأوز ار. احمده ان جعل الحجّ فى العمر مرّة من غير تـكر ار. وأشهد أن لااله الاّ الله وحده لاشريك له الملك الرحيم الغـــفّار . شـــهادة أسّــسّ عليــها اللبيت ذاا لأ ستار. واشهد أنّ سيّدنا محمّدا عبده ورسوله أفضل من قلّد الهدى وسنّ ا لأ شعار. اللّهمّ صلّ وسلّم وبارك على سيّدنا محمّد وعلى اله وأصحابه البررة ا لأ طهار. (امّا بعـــــد) فيا أيّهـــاالنّـــاس إتّقوا الله تعالى
فقد نودى بالحجّ فأين المشتاق. فقد قال الله تعالى فى القــــر آن العظــــيم.
اعوذ بالله من الشّيطان الرّجيم. بسم الله الرّ حمن الرّ حيم. ولله على النّاس حجّ البيت من اســـــــتطاع اليه ســـــبيلا. ومن كـــفر فإنّ الله غنى
عن العالمـــين.

HADIRIN SIDANG JUM�AH YANG DIMULYAKAN ALLAH ........
Dengan penuh kekhusu�an, kethawaddhu�an dan terpusatnya konsentrasi alam pikiran kita, marilah kita senantiasa mengistiqomahkan keimanan dan ketaqwaan kita � yang memang kadangkala bertambah dan berkurang ini dengan terus melaksanakan apa yang menjadi perintah Allah dan rasul-Nya, dan menjauhi sekaligus membenci apa yang menjadi cegahan dan larangan-Nya.

Rasa syukur yang paling dalam juga kita curahkan kehadirat llahi Rabbi yang telah menganugerahkan aneka ragam kenikmatan-Nya, dimana kita merasakan betapa hati nurani ini begitu tumpul, rasio dan akal kita begitu picik dan keras sehingga kita tidak mampu menghitung secara kwantitatif semua nikmat dan anugerah Allah Ta�ala itu, atau bahkan mengkufurinya ! Na�udzu billahi min dzalika.

HADIRIN SIDANG JUM�AH RAHIMUKULULLAH........!
Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah Subhanahu Wata�ala telah mencanangkan dan membangun pilar-pilar agama Islam itu di atas beberapa rukunnya yang lima, yaitu :

شهادة أن لا اله ا لاّ الله وحده لا شر يك له وانّ محمّدا عبده ورسوله رحمة لّلعالمين. واقام الصّلاة. وايتاء الزّ كاة. وصوم رمضان وحجّ البيت من اســتطاع اليه سبيلا . فمن اتى بهنّ كـــاملات فقد اســتكمل ا للإ يمان. ومن انتقص واحد منهن فبحق ربّه استهان.


�Mengucapkan syahadat / persaksian bahwa tidak ada Tuhan yang wajib disembah kecuali Allah yang maha esa yang tiada sekutu bagi-Nya. dan sesungguhnya Nabi Muhammad saw adalah hamba-Nya yang diutus untuk memberikan rahmad kepada seluruh alam. Menjalankan ibadah sholat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan menunuaikan ibadah haji bagi yang berkemampuan�. Barang siapa yang menjalankan kesemuanya dengan penuh kesempurnaan, maka sungguh telah sempurnalah keimannannya. Dan barang siapa mengurangi salah satu saja dari padanya maka sesungguhnya ia telah merendahkan haq-haq Tuhannya�.

Menyadari tentang hal ini, sejak sebulan yang lalu Allah Swt. telah membuka bulan-bulan haji-Nya dengan bulan Syawal. Di bulan Dzulo�dah ini, sebagaimana lazimnya saudara-saudara kita ini yang hendak menunaikan ibadah hajinya tengah mempersiapkan diri untuk keberangkatannya. Apakah yang mesti kita persiapkan ........ ?


HADIRIN SIDANG JUM�AH YANG BERBAHAGIA ..........
Di musim Haji seperti ini, lalu kita teringat pada sebuah sabda Rasulillah Saw yang berbunyi :

ألعمرة الى العمرة كفّارة لما بينهما والحجّ المبرور ليس له جز اء ا لاّ الجنّة

Artinya : �Menunaikan Umroh hingga pelaksanaan yang berikutnya adalah menjadi Kafarot / pelebur segala dosa yang ada diantara keduanya, dan haji yang mabrur tak ada balasannya yang lebih tepat kecuali Surga�.

Urusan Haji, memang merupakan masalah yang unik. Banyak orang yang hanya memandangnya sebagai salah satu rukun Islam atau kewajiban bagi Muslim yang mampu. Ada pula yang memandangnya sebagai semata-mata anugerah dari Allah atau panggilan Nabi Ibrahim As. Mereka yang memandang haji sebagai anugerah atau panggilan nabi Ibrahim, umumnya beranggapan bahwa Haji hampir tidak ada kaitannya dengan kemampuan.

Keyakinan semacam ini kemudian terkukuhkan oleh realita / kenyataan yang ada bahwa : �Siapa saja, asal sudah mendapat panggilan dari nabi Ibrahim, melaratpun orang akan naik haji; sebaliknya kalau masih belum mendapat panggilan dari bapaknya para nabi itu, orang kayapun tidak akan berangkat�.

Adapun bagi mereka yang memandang haji sebagai cita-cita hidup, umumnya Haji merupakan cambuk pendorong untuk giat bekerja dan menabung. Mereka bekerja dan menabung, sampai terwujud apa yang mereka cita-citakan itu.

Apapun pandangan seseorang tentang ibadah haji, yang jelas seyogyanya kita memanjatkan do�a kebaikan untuk saudara-saudara kita yang akan menunaikannya :

اللّهمّ اجعل حجّناحجا مبرور ا وسعيا مشكور ا وذنبا مغفور ا وتجارة لن تبور ا


�Allahhumma Yaa Allah Yaa Tuhan Kami, jadikanlah mereka yang menunaikan haji menjadi haji-haji yang mabrur, perjalanan yang penuh rasa syukur, dosa-dosa yang terampuni, dan perdagangan yang tiada kerugian�.

Tetapi perlu diingat, bahwa kata sementara orang arif, do�a semacam ini �hanyalah penaka minyak pelumas� bagi melicinkan jalannya roda ibadah dan amaliyah menuju tujuannya yakni penerimaan Allah dan ridloNya. Maka menurut pemahaman ini, pelumas saja tentulah tidak cukup, apalagi tanpa roda, sama sekali. Sedangkan ada roda itupun masih diperlukan pengetahuan bagaimana cara menjalankannya, dan kesesuaian praktik menjalankannya dengan pengetahuan.

HADIRIN SIDANG JUM�AH RAHIMAKUMULLAH . . . . .!
Dalam kaitannya dengan ibadah haji, disamping pelaksanaan rukun-rukunnya, kebenaran dan keihlasan niat merupakan komponen �rodanya� yang sangat penting dan menentukan. Sebab tanpa niat tak ada ibadah. Dan mereka yang berhaji bahkan beramal apa saja akan mendapatkan sesuatu yang sesuai dengan niat-Nya.

إنّما ا لا عـــــمال بالنّـــــيّات. وانّما لـــكلّ امرء مانوى
�Sesungguhnya sah dan sempurnanya setiap bentuk amal apapun adalah tergantung beberapa niatnya, dan bagi setiap personalnya akan mendapatkan apa yang diniatkan�.

Lebih lanjut itu artinya : mereka yang berhaji dengan niat memperoleh julukan haji, akan mendapatkan julukan itu. Mereka yang bertujuan melaksanakan rukun Islam, akan terbebas dari tuntutan kewajiban rukun kelima ini. Mereka yang berniat mendapatkan haji mabrur akan mendapatkannya. Mereka yang semata-mata ingin memperoleh ridlo Allah, akan memperolehnya. Demikian seterusnya. Dan dari niat ini pulalah, akan tercermin sikap masing-masing yang bersangkutan dan akan tumus / meresuk dalam prilakunya kemudian.

Niat yang benar dan ikhlas akan menuntun seseorang yang melaksanakan ibadah kepada jalannya yang lurus dan benar, dan diperjalanan ibadahnya tidak terbelokkan oleh nafsu dan keadaan yang menyesatkan. Sebaliknya niat yang tidak benar atau kurang ikhlas akan dengan mudahnya dibelokkan menjadi sebuah kepentingan untuk mencari kepuasan diri sendiri (meskipun kepuasan diri sendiri itu adalah kepuasan melaksanakan ibadah)

Tentu saja disamping niat yang benar dan ikhlas, masih diperlukan pengetahuan dan pemahaman terhadap ibadah yang dilaksanakan itu sendiri. Karena tanpa ilmu bagaimana orang dapat beramal dengan baik ? menulis risalah saja, bila tanpa di-ngelmuni akan hanya menyia-nyiakan kertas. Teringatlah kita pada statemen atau pernyataan Imam Syafi�i RA :

من أراد الدّنيا فعــليه بالعــــلم. ومن أراد ا لأ خرة فعـــليه بالعـــــلم . ومن ارا دهما فعــليه بالعــــلم.

Artinya : �Barang siapa menginginkan dunia, dia harus berilmu. Siapa menginginkan akherat, dia harus berilmu, dan siapa menginginkan dunia dan akherat, dia juga harus berilmu�.

Sebagai akhir dari khutbah ini, marilah kita memanjatkan do�a �Mudah-mudahan tidak ada diantara saudara-saudara kita yang sepulang dari ibadah hajinya tidak menjadi lebih baik dan justru perilaku dan ibadahnya lebih buruk dari sebelumnya, sebab alangkah sia-sia dan sayangnya jika kita telah bersusah payah mengorbankan banyak hal seperti harta, tenaga dan fikiran ; tahu-tahu haji kita tidak diterima Tuhan. Na�udzubillahi Min Dzalika.

Tentulah bukan karena kita tidak mendo�akan kemabruran hajinya atau do�a kita tidak mustajab ! tapi entah teruskan sendiri . . . . . !

أعوذ بالله من الشّيـــطان الرّ جـــيم . بســم الله الــرّ حمن الرّ حــيم. وأذّن فى النــّاس بالــحجّ يأتوك رجــا لا وعلى كـلّ ضامر يأتين من كلّ
فجّ عميق. بارك الله لى ولكم فى القر آن العظيم. ونفعني واياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم . انه هو السميع العـــليم . واســــتغفروا الله العظـــيم لى ولكم فيا فوز المســتغفر ين
ويانجـــــــاة الـــــــتّائبين.

Teks Khutbah Hari Raya 'Idul Fitri


الله أكبر 3 مرات . الله اكبر كبيرا والحمد لله كثيرا . وسبحان الله بكرة وأصيلا . لااله الاالله والله اكبر الله اكبر ولله الحمد . الحمد لله الواحد الأحد الفرد الصمد لم يلد ولم يولد ولم يكن له كفوا أحد . أشهد أن لااله الا الله شهادة تنجي قائلها يوم التناد . وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي الي الرشد والسداد . فاللهم صل وسلم علي نبينا محمد وعلي آله وصحبه والذين ساروا علي نهجه وجاهدوا لإقامة دين الله في حياتهم حق الجهاد . أمابعد ~ فياايها المسلمون العائدون أوصي نفسي وإياكم
بما وصي به رب العالمين حيث قال ” ياأيهاالذين آمنوااتقوالله والتنظر نفس ما قدمت لغد واتقواالله إن الله خبير بما تعملون . ولا تكونوا كالذين نسواالله فأنساهم أنفسهم أولئك هم الفاسقون .
Allahu Akbar walillahilhamd
Ma’asyiral muslimin al ‘aidin rahimakumullah
Alhamdulillah, kita bersyukur kepada Allah, dengan taufiq serta pertolonganNya kita dapat mengkhatamkan puasa ramadhan beserta paket ‘ibadat pendukungnya, dengan lancar dan dalam keadaan sehat wal ‘afiat. Dari tempat ini kita ingat kepada saudara-saudara kita, di antara mereka ada yang lebih dulu dipanggil oleh Allah untuk menghadapNya, dan banyak saudara kita yang menjalani syahru ramadhan dalam rundungan musibah. Ada yang sakit, dan secara khusus saudara kita di beberapa kabupaten Jawa Barat dan sekitarnya, yang menderita akibat gempa bumi hari rabu 9 September lalu. AJARAHUMULLAHU FI HADZIHILMUSHIBAH WA BADDALAHA LAHUM KHAIRA- Semoga Allah melimpahkan pahala kepada mereka dengan musibah ini, dan menggantinya dengan yang lebih baik!
Jika pada saat ramadhan tiba kita menyambutnya dengan penuh suka cita, dan selama sebulan kita merasa berbunga-bunga menyertai keagungan/keutamaan bulan mulia, maka ketika satu syawal tiba ada perasaan haru berbalut sedih untuk berpisah dengan bulan ampunan yang penuh barakah itu. Apalagi tidak seorangpun tahu apakah akan bersua kembali dengan bulan ramadhan tahun depan. YA ALLAH KARUNIAKAN KEPADA HAMBA-HAMBAMU INI UMUR PANJANG AGAR KEMBALI DAPAT MENDEKAP BULAN AGUNGMU DENGAN KEHANGATAN IMAN !
Allahu Akbar walillahilhamd
Bulan Ramadhan boleh meninggalkan kita, tetapi nilai-nilai akhlaq ramadhan jangan sampai lepas dari hidup kita, sehingga 1 syawwal tidak menjadi hari bubaran semuanya. Bulan syawal harus dibaca sebagai “imtidad” lanjutan ramadhan dengan ‘ibadah serta kesalehannya. Selama bulan ramadhan shilaturrahman (relasi dengan Allah) diharap telah semakin kuat dan dosa-dosa terhadap hak Allah telah diampunkan. Maka bulan syawal merupakan kesempatan untuk menyelesaikan dosa-dosa terkait hak-hak adami, dengan memperbanyak shilaturrahim saling mendo’akan dan saling membebaskan (lulubaran). ALYAUMA NATAGHAFARU, hari ini kita saling memaafkan. Demikian para sahabat nabi mengatakan satu sama lain.
Ma’asyiral ‘aidin wal ‘aidat
Mengisi bulan syawal dengan lanjutan ‘ibadah dan kesalehan ramadhan adalah hal yang dikehandaki oleh Rasulullah saw. Ada saum 6 hari syawwal, pada bulan-bulan berikutnya shaum senin-kamis dan 3 hari purnama. Khatmul quran dianjurkan setiap 40 hari sekali, zakat mal ditunaikan setiap bulan bagi harta penghasilan kerja profesi, begitu pula infak-shadaqah dan wakaf bisa dilakukan setiap saat. Bersamaan dengan itu semua komunikasi sosial kita harus berspiritkan shilaturrahim, tidak boleh memutus hubungan yang baik dengan siapapun, yang berakibat pada qath’urrahim (memutus aliran rahmat dari Allah SWT). Secara khusus relasi kita dengan masjid terus dipertahankan, karena yang benar-benar alumnus pendidikan ramadhan akan menjadi ahli masjid, aktivis dan pemakmur masjid. Performansi seperti itu akan diupayakan oleh orang yang menghambakan diri kepada Allah secara total. Tetapi akan menjadi perkara sulit buat orang yang seolah menjadi ”’ubbadu ramadhan” para penyembah bulan ramadhan, meminjam istilah Syekh Yusuf al Qardhawi. Semangat ’ibadah serta kesalehan mereka ternyata berakhir bersama usainya bulan ramadhan.
Dengan pola ”mudawamatul ’ibadah wal shalah” yakni mempertahankan ’ibadah dan kesalehan agar berkelanjutan (sustainable), maka ketaqwaan yang menjadi goal ’ibadah, benar-benar menjadi milik kita. Sehingga hidup menjadi dinamis serta progresif, kebaikan terus ditambah sedang hal-hal yang tidak baik diminimalisir. Rasulullah saw bersabda yang artinya :”Bertaqwalah engkau kepada Allah dimanapun dan kapanpun juga, ikutilah keburukan dengan kebaikan niscaya menghapuskannya, dan bergaullah bersama manusia dengan akhlak yang baik”. (Riwayat Tirmidzi dan Ahmad)
Hadits tersebut memberikan pesan bahwa taqwa harus melekat dan mengaktual, agar mampu mengontrol serta mengendalikan hawa nafsu kita. Sebab manusia senantiasa berada di antara dua dorongan/tarikan “taqwa” atau “hawa”. Taqwa bagai energi positif yang fitri sedang hawa merupakan energi negatif vs fitrah. Adapun perbuatan manusia mempunyai dua sisi, aktif dan pasif. Pada sisi aktif energi taqwa bermakna ”imtitsal” yakni menjalankan dan meluluskan perintah Allah yang wajib dan sunat tanpa diskriminatif. Dan pada sisi pasif, taqwa bermakna ”ittiqa dan ijtinab” melindungi diri dan menjauhi semua larangan Allah. Mulai dari yang haram, kemudian syubhat (remang-remang), makruh tahrim dan makruh tanzih, lalu puncaknya dengan menghindari perkara mubah tapi tidak bermanfaat.
Rasulullah saw bersabda: ”Seorang hamba tidak mencapai derajat taqwa hingga mampu meninggalkan perkara yang boleh demi menghindari dampaknya yang tidak baik” (Riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Allahu Akbar wa,lillahilhamd
Pada sisi aktif, taqwa mendorong insan beriman agar mengaktualisasikan imannya dalam pelbagai bentuk kesalehan. Kesalehan individual, kesalehan sosial dan kesalehan profesional. Sebab iman bukan semata keinginan untuk selamat dan bahagia (laisal imanu bittamanni), tetapi harus berupa tekad yang terhunjam kuat dalam kalbu (walakin ma waqara fil qalbi) dan langsung diaktualisasikan dalam amal nyata (washaddaqahul ’amalu). Karenanya Al Quran selalu menggandengkan kata iman dengan ’amal shaleh, tak kurang dari 60 kali. Maka tidak ada iman tanpa kesalehan, sebaliknya tidak ada kesalehan yang sejati tanpa iman. Orang bisa saja berpura-pura baik berpenampilan orang shaleh, tapi sesungguhnya ia tidak lebih dari seorang penipu ulung. Al Quran pun telah memperingatkan kepada orang-orang beriman terhadap tipu daya orang munafik, penipu dan pendusta.
Taqwa tidak boleh parsial sebagaimana iman tidak bersifat parsial. Tetapi hawa nafsu bekerja merusak totalitas taqwa dari ranah sosial dan profesional, mengerdilkannya hanya menjadi urusan pribadi yang personal. Banyak hadits bahwa iman dan taqwa harus eksis dengan signifikan di sektor kehidupan sosial. Antara lain:
- ”Demi Allah tidak beriman (diulangi sampai 3 kali). Sahabat bertanya, siapa itu ya Rasulallah ? Sabda beliau, orang yang tidak menjaga saudaranya dari perbuatan dirinya yang mengganggu” (Riwayat Muslim)
- ”Tidak termasuk golongan kami orang yang tertidur lelap karena kenyang sedang saudaranya lapar, padahal ia mengetahuinya” (Riwayat Thabrani)
- ”Orang muslim itu adalah orang yang menjaga keselamatan masyarakat dari gangguan mulut dan tangannya” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Di bidang profesi, iman dan taqwa berbicara kuat dengan pesannya. Rasulullah saw bersabda: ”Sesungghnya Allah telah mewajibkan berbuat yang ihsan (lebih baik atau terbaik) dalam segala urusan”. (Riwayat Muslim)
Dan sabdanya ”Sesungguhnya Allah mencintai orang yang berbuat sesuatu secara mantap (profesional)” (Riwayat Abu Dawud)
Ditegaskan pula ”Siapa yang menipu atau memalsu maka tidak termasuk golongan kami” (Riwayat Muslim)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Dalam wawasan dan kesadaran sosial, bahkan ”taqwal arham” (ketaqwaan sosial), manakala kita dalam kondisi sehat tapi di sana ada yang sakit, artinya Allah memberi kesempatan bagi si sehat untuk menolong yang sakit. Pada waktu kita diselamatkan Allah dari bencana sementara banyak saudara kita yang kena, ini artinya kesempatan/peluang bagi yang selamat untuk membantu yang kena bencana dengan apa yang mereka butuhkan dan kita mampu melalukan atau mengupayakannya. Kepedulian yang diberikan sesungguhnya merupakan alat untuk menolong kita sendiri di saat membutuhkan pertolongan. Rasulullah saw bersabda: ”Hanyasanya kamu ditolong dan diberi rezeki dengan kepedulianmu terhadap kaum dhu’afa di antaramu” (Riwayat Bukhari)
Dan sabdanya : “Barang siapa melepaskan seorang mu’min dari bencana di dunia maka Allah niscaya melepaskannya dari bencana di akhirat, Allah senantiasa menolong hambaNya manakala ia mau menolong saudara/sesamanya” (Riwayat Muslim). Itu manfaat yang kembali ke diri kita. Lebih dari itu kesalehan sosial kita akan menjadi premi asuransi pertanggungan dari Allah untuk anak cucu kita, sebagaimana ditulis dalam kisah Dzulqarnain di Surah Al Kahfi ayat 82.
Allahu Akbar walillahilhamd
Kini Allah swt kembali memberikan peluang kepada kita untuk menjadi peserta asuransi Rabbani yang pertanggungannya pasti dibayarkan pada saat kita perlukan, sekaligus asuransi bagi anak-cucu yang preminya kita titipkan kepada Allah. Di sana puluhan ribu saudara-saudara kita di sejumlah kabupaten Jawa Barat menanti kepedulian kita. Ketahuilah bahwa rahmat serta pertolongan Allah sedang menanti di sana bagi setiap muslim yang datang hatta untuk sekedar menengok guna memberi semangat pemulihan.
Dalam sebuah hadits Qudsi dijelaskan bahwa Rabbul ’Izzah berfirman: ”Wahai anak Adam, Aku sakit tapi kamu tidak menengok Aku. Ya Rabb, bagaimana mungkin Engkau sakit bukanlah Engkau Rabbul ’alamin ? Allah menjawab: Celaka engkau, saudaramu sakit tapi tidak kau jenguk, padahal kalau engkau menjenguknya niscaya akan mendapati Aku di sana. Wahai anak Adam, Aku lapar tetapi engkau tidak memberi Aku makanan. Ya Rabb, bagaimana mungkin Engkau lapar padahal Engkau Rabbul ’alamin ? Jawab Allah: celaka engkau, saudaramu menderita kekurangan/kelaparan, sekiranya engkau memberinya makan niscaya engkau akan mendapati Aku di sana. Wahai anak Adam Aku tidak berbusana tapi engkau tidak peduli. Ya Rabb, bagaimana mungkin Engkau tak berbusana bukankah Engkau Rabbul ’alamin? Jawab Allah: Celaka engkau, saudaramu butuh pakaian tapi engkau diam saja, jika engkau memberi mereka pakaian niscaya akan mendapati Aku di sana”.
Allahu Akbar walillahilhamd
Dalam suasana syukur hari lebaran mengekspresikan kegembiraan yang fitri, kita tetap harus waspada terhadap faktor-faktor penyimpangan dari fitrah. Syekh Ibnu ’Asyur dalam tafsirnya menyimpulkan, ada 4 faktor yang memesongkan manusia dari fitrah bawaan dan fitrah hasil pembinaan melalui rangkaian ’ibadah, yaitu:
Pertama, adanya celah kekeliruan pada saat pembinaan karakter manusia. Dimana mereka tidak diberi asupan sebagai insan yang utuh. Pendidikan di rumah dan di sekolah lebih memberi nutrisi fisik jasmani, dengan mengurangkan/mengeringkan nutrisi akal terlebih asupan spiritual. Akibatnya banyak kalangan remaja yang mencerna heroisme dengan gagah-gagahan dalam konflik fisik antar kelompok. Bukan dalam kontestasi keunggulan ilmiah, apalagi berkompetisi dalam keluhungan budi dan citra keadaban.
Kedua, berkembangnya akhlaq yang buruk akibat memperturutkan selera hedonistis, dan keliru dalam mengambil sosok rujukan dan percontohan dari orang-orang yang berpengaruh serta diidolakan. Padahal orang yang diidolakan itu gagal dalam mempertahankan rumah tangganya sendiri, sehingganya keluarganya berantakan.
Ketiga, tidak proporsional dalam menyenangi atau membenci sesuatu atau seseorang. Setiap yang berlebihan menimbulkan ekses yang tidak baik. Kesenangan atau kebencian yang berlebihan membutakan mata hati, sehingga menimbulkan perilaku yang merugikan.
Keempat, salah dalam memenuhi skala prioritas kebutuhan primer, sekunder dan tertier, dengan memperturutkan kesenangan terhadap yang sekunder dan tertier, sehingga dalam perjalanan waktu diperlakukan sebagai kebutuhan primer. Akibatnya muncul beban tambahan pada kebutuhan primer atau bahkan menggeser dan membalikkan posisinya ke peringkat sekunder.
Allahu Akbar walillahilhamd
Kembali ke fitrah bermakna menempatkan segala sesuatu dalam sorotan nurani sesuai dengan tingkat kemaslahatannya. Sedang bergeser atau menyimpang dari fitrah artinya menjadikan sesuatu yang maslahat menjadi kurang maslahat bahkan mendatangkan mudarat. Bagaikan obat yang diabaikan dan racun yang dijadikan obat. Terjadilah ”fasad fil ardhi”, kerusakan di muka bumi, apakah menyangkut fisik-jasmani, kerusakan pada akal fikiran dan krisis dalam mental spiritual. Itu karena penyimpangan dari fitrah telah mengakibatkan kegelapan dalam hati sehingga menjadi ”qalbun zhulmani”. Dalam kegelapan hati apapun yang dilakukan manusia menjadi lepas dari kendali taqwa, lalu diambil alih oleh hawa nafsu yang membawa manusia pada kerendahan dan jatuhnya martabat. Melalui program ilahiah di bulan ramadhan dan di luar ramadhan, dilakukan pemenuhan kebutuhan manusia secara imbang dan tepat, serta membinanya ke tingkat yang lebih maju dan lebih maslahat. Hidup sesuai fitrah adalah hidup yang bermartabat, hidup yang serba baik (hayatan thayyibah); ramah lingkungan sosial dan ramah lingkungan alam bagi kemaslahatan manusia. Suasana fitri dan nurani harus dipelihara jangan sampai rusak terjebak dalam suasana gelap (zhulmani) yang merusak.
Allah berfirman ” Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi setelah keadaannya menjadi baik, dan berdo’alah kepada Allah dengan cemas dan harap, sesunguhnya rahmat Allah itu dekat terhadap mereka yang selalu berbuat ihsan”. (Al A’raf, 56)
Do’a
اللهم صل وسلم علي نبينا محمد وعلي آله وصحبه أجمعين. آمين يارب العالمين
اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين زالمؤمنات الأحياء منهم والأموات إنك سميع قريب مجيب الدعوات
اللهم آت نفوسنا تقواها وزكها فأنت خير من زكاها أنت وليها ومولاها
اللهم حبب الينا الإيمان وزينه في قلوبنا وكره الينا الكفر والفسوق والعصيان واجعلنا من الراشدين
اللهم إنا نعوذ بك من النفاق والرياء والشقاق وسوء الأخلاق
ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب
ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رءوف رحيم
ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
تقبل الله منا ومنكم

khutbah rosulullah SAW


Wahai para manusia, telah menyelubungi kalian bulan yang agung, bulan yang dilimpahi Keberkahan yang padanya terdapat suatu malam yang lebih mulia dari seribu bulan, Allah jadikan puasa padanya kewajiban, dan shalat malamnya sunnah, Barangsiapa yang beramal (dibulan itu) dengan amal yang sunnah maka baginya pahala seakan melakukan ibadah yang fardhu, Barangsiapa mengamalkan amal yang fardhu maka seakan menjalankan 70 hal yang fardhu dibulan yang lain, Dia adalah (ramadhan) Bulan kesabaran, dan balasan sabar adalah sorga, Dialah bulan saling tolong menolong, Ditambahkan (oleh Allah) padanya rizki orang-orang mukmin. Barangsiapa yang menjamu buka orang yang berpuasa maka baginya pengampunan atas dosa-dosanya dan pembebasan dari neraka, dan ia mendapat pahala puasa seperti orang itu tanpa dikurangkan..

Maka berkatalah sebagian dari mereka : ?tidak semua dari kami mempunyai rizki menjamu orang berbuka puasa?, maka Rasul saw menjawab : ?Allah tetap memberikan pahala itu walaupun hanya dengan sebutir korma atau segelas air. Dialah bulan yang pada awalnya Rahmat (Kasih Sayang Allah), dan pertengahannya Pengampunan, dan akhirnya adalah pembebasan dari neraka, Barangsiapa yang memberi keringanan pada budaknya (atau pembantunya) maka diampuni dosa-dosanya dan baginya pembebasan dari neraka.

Maka perbanyaklah empat hal, yang dua hal adalah keridhoan Tuhanmu dan yang dua lainnya adalah tiada kemampuan kalian mendapatkannya (Allah yang memiliki), Dua hal yang pertama adalah syahadat bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan yang kedua adalah kalian beristighfar pada Nya, Dan dua hal yang bukan milik kalian adalah mintalah sorga dan berlindunglah padanya dari neraka, Barangsiapa yang memberi minum untuk berbuka orang yang berpuasa di bulan itu maka Allah akan memberinya minum dari telagaku hingga tak akan ia haus hingga ia sampai ke sorga? (Shahih Ibn Khuzaimah hadits no.1887)

Awal mula sejarah nabi muhammad SAW.


NASHRUL HIKMAH Bulan ROBIUL AWWAL adalah termasuk bulan yang mempunyai sejarah yang amat penting dalam sejarah islam, karena di dalam bulan tersebut terlahir manusia yang termulya di antara makhluq-makhluq-Nya yang lain, dialah Muhammad Bin Abdulloh sebagai Rosul akhiruz zaman, yang menebarkan oase di muka bumi ini, yang menebarkan cinta kepada Alloh SWT, yang mengangkat derajat kaum wanita, yang menyempurnakan akhlaq manusia, dan pemberi syafaat.

Bulan Robiul Awwal di kalangan faham ahlussunnah wal jama’ah sering di peringati dengan berbagai macam kegiatan, khususnya pembacaan sejarah kehidupan Rosululloh SAW, yakni dikalangan masyarakat biasa di sebut pembacaan Maulid, adapaun jenis Kitab Maulid yang di baca sangatlah beragam: ada yang menggunkanan Al Barjanzi, Ad Dziba’i, Burdah, Simthud Duror, Diyaul Lami’, Syarful Anam dsb….

Adapaun dasar dalil memperingati Maulid Nabi SAW adalah :

قال صلى الله عليه وسلم : من عظم مولدي كنت شفيعا له يوم القيامه
Rosululloh bersabda : Barangsiapa yang menghormati kelahiranku, tentu aku akan memberikan syafaat kpdnya di hari Kiamat ( Madarij al Su’ud Syarah al Barjanzi-hlm:15 )

Kemudian siapakah Tokoh yang pertama kali mengadakan perayaan Maulid Nabi SAW…?
Tokoh yang mula-mula mengadakan perayaan mauled Nabi SAW adalah Malik Al Mudzoffar Abu Sa’id, beliau adalah pejabat kota Ibril wilayah Moushul Irak. Menurut catatan sejarah Malik Al Mudzoffar Abu Sa’id, mengadakan perayaan tersebut adalah untuk membangkitkan semangat kaum muslimin pada waktu itu yang melemah karena peperangan, kemudian setelah perayaan tersebut selesai kaum muslimin kembali berkobar semangatnya

Malik Al Mudzoffar Abu Sa’id memerintahkan seorang ulama’ besar pada waktu yakni : Al Hafidz Ibnu Dahiyah untuk menulis kisah Maulid Nabis SAW dengan nama atau judul kitab : At Tanwir fi Maulid as Siroj al Munir, ini adalah kitab mauled yang pertama kali di tulis, setelah itu tokoh-tokoh ulama’ lain mengikuti jejak beliau untuk menyusun kitab Maulid, seperti : Syekh Abdur Rahman Adz Dziba’I, Sayyid Ja’far bin Hasan al Barjanzi, Imam Busyiri, Habib Aly Al Habsy dst….

“ disebutkan dalam sebuah atsar: Rosululloh SAW pernah bersabda: Barang siapa membuat atau menulis sejarah ( Biografi ) orang mu’min yang sudah meninggal, sama artinya ia menghidupkannya kembali, barangsiapa membacakan sejarahnya, seolah-olah ia sedang mengunjunginya, barangsiapa yang mengunjunginya. Alloh SWT akan memberika surga baginya. “ ( Bughyatul Mustarsyidin. Hlm : 97 )

.
Oleh karena itu marilah Bulan Robiul Awal ini, kita jadikan hari raya ummat muslim yang ke-3 setelah idul fitri & idul Adha, kita syiarkan, kita tanamkan rasa semangat utk mencintai Rosululloh SAW, dst…….kemudian basahilah lisan kita dg perbanyak sholawat atas Nabi Muhammad SAW melalui berbagai cara yang anda sukai..

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme